Minggu, 24 Juni 2012

Pondok Pesantren Sunan Drajat

Sejarah Pondok Pesantren Sunan Drajat
Pondok Pesantren Sunan Drajat Banjaranyar memiliki historis yang amat panjang karena keberadaan pesantren ini tak dari nama yang disandangnya yakni, Sunan Drajat. Sunan Drajat adalah julukan dari Raden Qosim putra kedua Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel) dengan Nyi Ageng Manila (Putri Adipati Tuban Arya Teja). beliau juga memiliki nama Syarifuddin atau Ma'unat. Perjuangan Sunan Drajat di Banjaranyar dimulai tatkala beliau diutus ayahandanya untuk membantu perjuan Mbah Banjar dan Mbah Mayang Madu guna menengembangkan syiar Islam di daerah pesisir pantai utara (Kabupaten Lamongan) saat ini.
Syahdan, pada tahun 1440-an ada seorang pelaut muslim asal Banjar (Daerah Kalimantan) yang mengalami  musibahdi pesisir pantai utara pulau jawa, kapal yang ditumpangi pelaut tersebut pecah terbentur karang dan karam di laut. adapun Sang Pelaut Banjar terdampar di tepian pantai Desa Jelaq  Kec. Paciran Kab. Lamongan dan ditolong oleh Mbah Mayang Madu penguasa kampung  Jelaq saat itu. Melihat kondisi masyarakat Jelaq yang terseret sedemikian jauh dalam kesesatan, Sang Pelaut muslim itu punterketuk hatinya untuk menegakkan sendi-sendi agama Allah. Beliau pun mulai berdakwah dan mensyiarkan ajaran Islam kepada penduduk Jelaq dan sekitranya. lamba-laun perjuangan Sang Pelaut yang kemudian hari lebih dikenal dengan Mbah Banjar mulai membuahkan hasil. Apalagi bersamaan dengan itu Mbah Mayang Madu pun turut menyatakan diri masuk Islam dan menjadi penyokong utama perjuangan Mbah Banjar.






Pada suatu saat Mbah Banjar dan Mbah Mayang Madu berkeinginan untuk mendirikan tempat pengajaran dan pendidikan agama agar syiar Islam semakin berkembang, namun mereka menemui kendala dikarenakan masih kurangnya tenaga edukatif (tenaga pendidik) yang mumpungi dibidang ilmu agama Islam yang benar-benar paham agama Islam. Akhirnya mereka pun sepakat untuk sowan menghadap Kanjeng Sunan Ampel di Ampel Denta Surabaya. Akhirnya Kanjeng Sunan Ampel memberikan restu dengan mengutus putranya Raden Qosim untuk turut serta membantu perjuangn kedua tokoh tersebut. Akhirnya Raden Qosim mendirikan Pondok Pesantren di suatu petak tanah yang terletak di arela Pondok Pesantren Putri Sunan Drajat saat ini. Beliaupun mengatakan (berdo'a) bahwa barang siapa yang mau belajar mendalami ilmu agama di tempat tersebut semoga Allah menjadikannya manusia yang memiliki derajar luhur. Karena do'a Raden Qosim ini para pencari ilmu berbondong-bondong belajar di tempat beliau dan Raden Qosim pun mendapat gelar Sunan Drajat. Sementara itu untuk mengenang perjuangan Mbah Banjar, maka dusun yang sebelumnya bernama kampung Jelaq dirubah namanya menjadi Banjaranyar untuk mengabadikan nama Mbah Banjar dan Anyar sebagai suasana baru di bawah sinar petunjuk Islam.
Setelah beberapa lama beliau  berdakwah di Banjaranyar, maka Raden Qosim mengembangkan daerah dakwahnya dengan mendirikan masjid dan Pondok Pesantren. Beliau berjuang hingga akhir hayat beliau. Sepeninggalan Kanjeng Sunan Drajat, tongkat estafet perjuang dilanjutkan oleh anak cucu beliau. Namun seiring dengan perjalanan waktu yang cukup panjang pamor Pondok Pesantren Sunan Drajat pun kian pudar dan akhirnya lenyap ditelan masa. Saat itu hanyalah sumur tua yang tertimbun tanah dan pondasi bekas langar yang tersisa. Kemaksiatan dan perjudian merajalela disekitar wilayah Banjaranyar dan sekitarnya, bahkan areal di mana Raden Qosim mendirikan Pondok Pesantren di Banjaranyar saat itu berubah menjadi tempat pemujaan.


Kebangkitan Pondok Pesantren Sunan Drajat

Setelah mengalami proses kemunduruan, bahkan sempat menghilang dari percaturan dunia Islam  di Pulau Jawa. Pada akhirnya Pondok Pesantren Sunan Drajat kembali menata diri dan menatap masa depannya dengan rasa optimis dan tekat yang kuat. Hal ini bermula dari upaya yang dilakukan oleh Dr. KH Abdul Ghofur yang bercita-cita untuk melanjutkan perjuangan Sunan Drajat di Banjaranyar pada tahun 1977.
Sepulang dari perantauan mencari ilmu, beliau beruapaya menghidupkan kembali pesantren yang telah lama mati dengan melalui pedekatan seni. Dengan bekal ilmu kanuragan yang dimiliki Dr. KH. Abdul Ghofur mengumpulkan para pemuda sambil mengajarkan ilmu agama, ilmu kanuragan, serta ilmu pengobatan.Dan dengan itu pamor Pondok Pesantren Sunan Drajat menunjukkan perkembangan yang luar biasa pesatnya. Jumlah santri yang semua hanya beberapa orang menjadi ratusan bahkan ribuan dan terus berkembang secara pesat dari tahun ke tahun.

Kini Pondok Pesantren Sunan Drajat telah memiliki berbagai pendidikan formal maupun non formal, dalam berbagai jenis dan jenjang, seperti : TK Al Mua'wannah, MI Al Mu'awannah, MTs Al Mu'awanah, SMP N 2 Paciran, SMK Sunan Drajat, MA Ma'arif 7 Sunan Drajat, MMA Sunan Drajat, Madrasah Diniyah (MADIN), Madrasatul Qur'an (MQ) dan Lembaga Pengembangan Bahasa Asing (LPBA). Dengan jumlah peserta didik kurang lebih sembilan ribu (9.000) orang. Semua tak lepas dari berbagai terobosan dan upaya yang dilakukan untuk menjadikan Pondok Pesantren Sunan Drajat sebagai Rohmatan Lil A'alamin.



Cinta Ibarat Sebuah Bis

Cinta itu sama seperti orang yg sedang menunggu bis.. Sebuah bis kemudian datang, dan kamu bilang,  "Wah..terlalu penuh, sumpek, bakalan nggak bisa duduk nyaman neh!  Aku tunggu bis berikutnya aja deh."  Kemudian, bis berikutnya datang.  

Kamu melihatnya dan berkata,  "Aduh bisnya kurang asik nih, nggak bagus lagi.. nggak mau ah..",lalu bis selanjutnya datang, cool dan kamu berminat,  tapi seakan-akan dia tidak melihatmu dan lewat begitu saja.  Selanjutnya,bis keempat pun berhenti tepat di depan kamu..  Bis itu kosong, cukup bagus, tapi kamu bilang,  "Nggak ada AC nih, bisa kepanasan aku nanti".  Maka kamu membiarkan bis keempat itu pergi.  


Waktu terus berlalu,  kamu mulai sadar bahwa kamu bisa terlambat pergi ke kantor.  Ketika bis kelima datang,  kamu sudah tak sabar dan kamu langsung melompat masuk ke dalamnya.  
Setelah beberapa lama, kamu akhirnya baru sadar kalau kamu salah menaiki bis.  Bis tersebut jurusannya bukan yang kamu tuju!,Dan kamu baru sadar telah menyia-nyiakan  waktumu sekian lama.       

“Sering kali seseorang menunggu orang yang benar-benar 'ideal'   untuk menjadi pasangan hidupnya.Padahal tidak ada orang yang 100% memenuhi keidealan kita.  Dan kamu pun sekali-kali tidak akan pernah bisa menjadi 100% sesuai keinginan 
 
 

Dari Pesantren Menuju Menara Peradaban


Bismillahirohmanirohim . . . . . . .


Seiring dengan arus dinamika zaman, definisi dan persepsi terhadap kaum Santri menjadi berubah pula. Kalau pada awalnya kaum Santri diberi makna dan pengertian sebagai orang yang menimba ilmu-ilmu agama Islam dengan sistem pengajaran yang tradisional dan klasik. Atau sekumpulan orang-orang yang mukim dalam sebuah asrama (pondokan), dan masa belajarnya membutuhkan kurun waktu yang cukup lama, sampai si Santri tersebut benar-benar matang menyerap semua ilmu yang telah di pelajarinya, dan siap untuk terjun langsung di masyarakat. Tetapi sekarang definisi dan persepsi tentang kaum Santri sebagaimana dijelaskan diatas tidak lagi benar.
Secara umum, perlu diberikan suatu keseragaman pengertian tentang kaum Santri. Mengapa? Karena sesuai dalam perkembangannya di dalam bangsa ini, kaum Santri tidak lagi identik dengan definisi dan persepsi klasik seperti disebutkan diatas. Kaum Santri sekarang sudah mempunyai kekuatan besar (Big Power) dalam menjadikan bangsa ini lebih bermartabat dan berjati diri, serta berkarakter.


Dengan bermodalkan tiga H bentuk keterampilan, yaitu: H pertama, Head artinya kepala, maknanya mengisi otak santri dengan ilmu pengetahuan, H kedua, Heart artinya hati, maknanya mengisi hati santri dengan iman dan taqwa (IMTAQ), dan H yang ketiga, adalah Hand artinya tangan, maknanya kemampuan bekerja. (Daulay, 2004: 26). Kaum Santri sangat mumpuni untuk menjadi seorang pemimpin di bangsa ini. Yang akan menjadikan masyarakat bangsa ini, masyarakat madani. Yaitu masyarakat yang pernah ada dalam sejarah keemasan Islam (masa Rasulullah), yang dalam tatanan kehidupan masyarakatnya berperadaban tinggi.
Masyarakat madani adalah masyarakat yang mempunyai lima ciri dalam tatanan hidupnya, yaitu: 


  1. Masyarakat Rabbaniyah, semangat berketuhanan yang berlandaskan aqidah, syari’ah, dan ahlak. 
  2. Masyarakat yang demokratis, di mana Rasulullah dan para sahabatnya mentradisikan musyawarah dalam segala persoalan. 
  3. Masyarakat toleran, masyarakat Madinah adalah masyarakat yang plural, dari segi suku mereka terdiri dari berbagai etnik. Dengan mempersatukan berbagai kalangan dan etnik ini, akan tercipta persatuan dan kerjasama yang erat. 
  4. Berkeadilan, karena begitu pentingnya keadilan dalam sebuah tatanan hidup masyarakat, sampai-sampai Al-Qur’an menjelaskan bahwa keadilan itu mendekati taqwa. (QS. Al-Maidah: 8). 
  5. Masyarakat berilmu, ilmu merupakan salah satu pilar yang di tegakkan Rasul dalam membangun masyarakat Madinah. Sehingga penerapan masyarakat berilmu ini begitu urgen dalam memberantas buta huruf (aksara) di kalangan umat Islam. (Daulay, 2004: 33).


Kita ketahui bersama, dengan kehadiran Kekuatan Santri dalam kancah perpolitikan nasional: mampukah mereka mewarnai kembali peradaban nusantara dalam membangun kekuatan bangsa dan dapat menjadi rahmatan lil ‘alaamien bagi tegaknya keadilan dan kesejahteraan bangsa yang menyentuh ke seluruh wilayah negeri ini?


Menilik pada fenomena yang terjadi sejak akhir dekade 1990-an hingga sekarang, kaum Santri memiliki tawaran politik yang lebih kongkret realistis, yakni melakukan pergeseran dari sekedar terlibat dalam dataran ideologis ke arena politik praktis dan berusaha membawa Islam ke dalam Lingkungan Kekuasaan (Environmental Power).
Mungkin sebagian orang akan tertawa, apabila mendengar kaum Santri bermain politik, berkecimpung dalam tatanan ekonomi bangsa, mengadakan hubungan dengan berbagai etnik dalam masalah kehidupan sosial (Pluralitas), ikut mengenalkan khazanah budaya negeri ke negara-negara lain, serta menguasai ilmu pengetahuan dan tekhnologi (IPTEK).

Namun, itu semua tidak menjadi kendala dan pemutus semangat bagi mereka dalam mengikuti kancah pergumulan politik di dalam negeri. Bahkan asumsi orang-orang yang mendoktrin kaum Santri sebagai orang yang ketinggalan zaman dan gaptek (gagap tekhnologi), hanyalah wacana dan anggapan omong kosong belaka. Atau mungkin sebaliknya, mereka yang mendoktrin sepeti itu adalah kaum-kaum jahiliyah yang dengki terhadap kehidupan kaum Santri.


Menurut Penulis, dengan sangat yakin, apabila kaum Santri menguasai berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti: pendidikan, politik, ekonomi, sosial, dan budaya, akan mempunyai peran penting dalam menjadikan masyarakat bangsa ini masyarakat madani.

Santri Berpendidikan
Substansi dari pendidikan kaum Santri adalah pendidikan hati (tarbiyah al-qolbu). Yang tentu dibarengi dengan iman dan taqwa, dan juga wawasan ilmu pengetahuan yang luas. Ada sebuah adagium yang menarik dikalangan kaum ‘Santri’ dalam masalah pendidikan, yaitu jadilah santri yang intelek, bukan cerdas dulu baru intelek.
Karena kebanyakan dari orang cerdas lebih dulu baru intelek, kehilangan hati nuraninya (Dlomir). Ia tidak lagi mengenal siapa dirinya sebenarnya? Untuk tujuan apakah pendidikan yang ia capai? Serta apa itu substansi dari pendidikan?. Sebaliknya orang yang intelek dulu sudah pasti cerdas, Ia tidak akan pernah lupa hakikat dari substansi pendidikan yaitu pendidikan hati (Tarbiyah Al-Qolbu). Apabila hatinya bersih, maka tingkah laku, gerak-gerik, dan semua tindak-tanduknya sudah pasti baik. Bukan dengan hati kotor yang akan lebih banyak mendatangkan kejelekan dan kemudlorotan. Rasulullah Saw. Bersabda: Innamal A’malu Bin Niyyat Wa Innama Likuliimriin Maa Nawaa, Sesungguhnya segala sesuatu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap segala perkara itu tergantung pada apa yang diniatkan.

Santri Berpolitik
Santri berpolitik adalah adalah santri yang mengaktualisasi dalam wilayah politik, atau santri yang terlibat dalam kelembagaan politik. Kaum Santri dalam berpolitik, mengikuti politik yang dipakai oleh Rasulullah dalam memimpin umat Islam, yang bersumber dari al-Qur’an, Sunnah, dan tradisi (dalam arti luas). Telah ditunjukan al-Qur’an dalam bernegara dan bermasyarakat, diantaranya: musyawarah¸ ketaatan kepada pemimpin, keadilan, dan persamaan. Dengan sistem politik tersebut, Rasulullah Saw berhasil menjadikan umat Islam masyarakat yang sangat berperadaban. Yaitu masyarakat madani.
Perlu diketahui, pengertian istilah cara politik Rasulullah (Politik Islami) ini tidak harus diartikan secara formal, misalnya dengan mendirikan negara Islam, khilafah Islamiah, atau partai-partai Islam. Karena Secara historis, Nabi Muhammad sendiri tidak pernah menyebut negara Islam. Yang ada hanya negara Madinah (Madani). Apakah Saudi Arabia yang mengklaim sebagai negara dengan ideologi Islam pantas disebut negara yang lebih Islami daripada Indonesia misalnya?


Santri Berekonomi
Mendengar kalimat diatas, bukan lagi barang baru yang ada di dalam kehidupan kaum Santri. Sudah banyak lembaga-lembaga pesantren yang membekali para santrinya dengan ilmu-ilmu berwirausaha (Enterpreuneurship). Bahkan ada sebuah pesantren di desa Nglaren, Yogyakarta yang berslogankan Mengaji Menuju Santri Enterpreuneur. Yaitu disamping si Santri belajar ilmu-ilmu agama, mereka juga belajar dan di ajari tentang ilmu-ilmu sistem perekonomian Islam (syari’ah).


Selain itu, kaum Santri juga disiapkan untuk menjadi sumberdaya-sumberdaya manusia yang berkarakter nubuwwah, yaitu: memiliki kemampuan dan keahlian yang memadai (fathonah), memiliki integritas terhadap penegakan kebenaran (shiddiq), memiliki kepekaan terhadap perubahan keadaan, informatif dan komunikatif (tabligh) dan memegang teguh komitmen yang telah direncanakan dan disepakati (amanah).
Kalau kita lihat perkembangan ekonomi dunia yang masih belum stabil pertumbuhannya hingga saat ini, ternyata sistem perekonomian yang berbasiskan Islam (Syariah), lebih eksis dan bahkan semakin menjulang tinggi pertumbuhannya. Ini menandakan sistem perekonomian Islam (Syari’ah), merupakan sistem yang sangat efektif apabila digunakan untuk tatanan perekonomian bangsa.



Santri Bersosial
Semua orang mungkin sudah mengetahuinya, bagaimana dan seperti apa kehidupan kaum Santri dalam kesehariannya? Di pesantren manapun, di desa ataupun dikota, lembaga-lembaga pesantren selalu mendidik para Santrinya untuk hidup bersosial antar sesama.
Sebagaimana kata Gus Dur (Alm), pesantren adalah sebagai lembaga integral masyarakat yang bertanggung jawab terhadap perubahan dan rekayasa sosial. Karena pesantren seperti dunia akademik dan memiliki cirri khas tersendiri, bertanggung jawab atas berbagai fenomena sosial yang berkembang dan berdampak negative bagi kelangsungan hidup manusia.
Pesantren juga, menanamkan pasa Santrinya dengan nilai-nilai yang memiliki cita sosial yaitu nilai keadilan, perdamaian, kejujuran, tanggung jawab dan membawa kemaslahatan di dunia dan akhirat.
Bourdieu mengungkapkan bahwa dalam praktek sosial terdapat konsep ynag ,menggerakan suatu tindakan sosial, yaitu habitus dan field, yang didukung oleh kekuasaan simbolik, strategi, dan perjuangan.

Santri Berbudaya
Kaum Santri mempunyai andil besar dalam memahami nilai-nilai budaya bangsa. Karena mereka mengetahui potret perjalanan pesantren di Indonesia. Islam berkembang di dalamnya dengan perantara khazanah budaya-budaya yang ada di Indonesia.
Pesantren dikenal sebagai Counter Culture, maka semestinya pesantren mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan sifat dan cirri khas budaya yang bersifat dinamis dan statis. Para Santri pun dituntut untuk ikut mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan sifat dan cirri khas budaya tersebut. Disinilah wadah untuk memastikan, apakah kaum Santri bisa mengikuti modernitas di era globalisasi ini dengan tetap berpegang kepada khazanah budaya bangsa?.


Untuk itulah The Power of Santri Dari Gubuk Pesantren Menuju Menara Peradaban, menjadi daya tarik tersendiri untuk diteliti dan diketahui. Melihat keadaan bangsa yang tak kunjung selesai ditimpa masalah-masalah. Dengan peran serta kaum Santri diarena perpolitikan bangsa, mampukah mereka merekonstruksi, mereaktualisasi, dan mereposisi di hadapan kekuatan-kekuatan lain dalam menciptakan bangsa yang madani, yaitu Indonesia baru yang agamis, bermoral dan lebih beradab(Civilized). 


Ya Allah . . . . . . . . .
Dzat Yang Mengusai Langit dan Bumi
Dzat Maha Agung dan Dzat Yang Maha Kuasa 
Ridhoi Kami (santri-santri) ini Ya Robb
Mulyakanlah kami dengan cahaya ilmu-Mu
Keluarkanlah kami dari kegelapan
Irhamnaa fi Dunya wal Akhiroh




Wa Allahu A’lam Bishowab

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar