Minggu, 24 Juni 2012


ARTI KEHIDUPAN

Salah satu masalah fundamental yang perlu dikaji dan dihayati dalam kehidupan ini adalah mencari arti dan tujuan dari hidup dan kehidupan. Manusia acapkali mengajukan pertanyaan untuk apa ia hidup dan apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup itu. Dari sudut pandang Islam, seseorang juga akan bertanya, di samping pertanyaan di atas, “Apa yang menjadi tujuan dan sasaran diutusnya para nabi?” Namun, tujuan dan misi para nabi tentu saja tidak sama dengan tujuan setiap individu dalam masyarakat; karena, para nabi diutus untuk memandu dan membimbing manusia kepada beberapa tujuan yang sangat urgen dan mendasar. Selangkah lebih jauh, kita juga dapat menyodorkan pertanyaan: “Apa tujuan penciptaan manusia dan makhluk-makhluk lainnya?” Masalah ini memerlukan sebuah analisa yang tepat dan akurat. Hal ini boleh jadi bertalian dengan “tujuan Sang Pencipta dalam penciptaan, manifestasi kehendak dan tujuan-Nya”. Sementara itu kita tidak dapat beranggapan bahwa Tuhan memiliki tujuan, dan yakin bahwa Dia berhasrat untuk meraih dan mendapatkan sesuatu di balik perbuatan-Nya itu. Anggapan semacam ini bermakna adanya kekurangan dan cela pada pelaku dari sebuah perbuatan, yang hanya benar kalau dinisbahkan pada makhluk yang memiliki potensi, tapi tidak bagi Sang Pencipta; lantaran hal itu akan bermakna bahwa Dia bermaksud bergerak menuju kesempurnaan dan mendapatkan sesuatu yang Dia tidak miliki. Namun terkadang, tujuan penciptaan artinya tujuan dari perbuatan penciptaan, bukan Sang Pencipta. Hal ini berkaitan dengan gerakan yang dicipta menuju kesempurnaan, bukan kesempurnaan dari Sang Pencipta itu sendiri. Dalam artian ini, apabila kita berpikir tabiat penciptaan senantiasa bergerak ke arah kesempurnaan, maka terdapat sebuah motif dan tujuan dalam penciptaan. Hal ini yang sebenarnya menjadi permasalahan, yaitu, setiap sesuatu yang diciptakan memiliki tingkatan kemandirian dalam mencapai kesempurnaan yang dituju; dan setiap kondisi terdapat tingkatan-tingkatan kecacatan atau kesempurnaan hingga batasan maksimum tercapai. Persoalan “motif dalam penciptaan manusia” adalah secara mendasar berkenaan dengan ‘tabiat manusia.” Hal ini berkaitan dengan bakat apa pun yang inheren dalam dirinya, dan kesempurnaan individual apa pun menjadi mungkin baginya. Sekali kesempurnaan dapat dicapai oleh seseorang, kita dapat berkata bahwa ia diciptakan untuk hal tersebut. Nampaknya kita tidak perlu mengelaborasi tujuan dan motif penciptaan manusia dalam sebuah topik yang berbeda. Akan memadai bagi kita melihat jenis makhluk apakah manusia itu, dan kemampuan apa saja yang inheren dalam dirinya. Dengan kata lain, lantaran pembahasan kita berkaitan dengan perspektif Islam tentang tujuan penciptaan, bukan sesuatu yang bersifat filosofis, kita harus melihat bagaimana Islam memandang manusia dan kemampuan yang dimilikinya. Secara natural, misi para nabi, juga diyakini secara aklamasi, untuk memfasilitasi kesempurnaan manusia dan membantunya untuk menghilangkan segala cela, aib dan cacat yang ada, secara individual dan sosial. Hanya dengan bantuan wahyu yang dapat memajukannya dalam mencapai kesempurnaan. Dengan demikian, setiap orang harus melihat apa yang dapat ia capai setelah mengidentifikasi potensi yang ia miliki, kemudian mengaktualkan potensi tersebut. Demikianlah tujuan hidup kita. Sejauh ini, subyek permasalahan dikemas secara umum. Kini, kita harus membahasnya secara detail: Apakah al-Qur’an telah membahas tujuan manusia, dan apakah ia membeberkan alasan atas penciptaannya sekaligus misi diutusnya para nabi. Acapkali kita berkata bahwa manusia diciptakan untuk mencari kebahagiaan dan Tuhan tidak menghendaki, juga tidak meraih keuntungan dalam penciptaan manusia. Sejatinya, manusia ditakdirkan untuk memilih jalannya secara bebas, petunjuk yang Tuhan berikan merupakan masalah tugas dan keyakinan, bukan bersifat wajib dan instingtif. Oleh karena itu, lantaran ia bebas, ia dapat memilih jalan yang benar. Senada dengan apa yang disinggung dalam al-Qur’an, “Kami telah menunjukkan jalan kepada manusia, ada yang syukur dan ada juga yang kufur.” (Qs. al-Insan [76]:3) Namun apakah kebahagiaan itu menurut al-Qur’an? Terkadang dikatakan bahwa tujuan penciptaan manusia dan diutusnya para nabi adalah untuk membuat manusia kuat dalam ilmu dan resolusi, sehingga ia dapat belajar lagi dan lagi, dan memiliki kekuatan untuk melakukan apa yang ia senangi. Lalu, tujuan penciptaan sebuah biji adalah untuk menyadari potensi yang ia miliki untuk ia aktualkan menjadi sebuah pohon yang matang. Demikian juga, pertumbuhan tulang seekor anak domba menjadi domba memanifestasikan sebuah tujuan penciptaan (berguna untuk manusia). Potensi yang terdapat pada manusia adalah lebih superior, ia dimaksudkan untuk menjadi makhluk yang berilmu dan berkemampuan. Semakin ia tahu, semakin ia dapat menggunakan pengetahuannya dan semakin dekat ia kepada tujuan dan motif kemanusiaannya. Terkadang dikatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah mencapai kebahagiaan sepanjang hayatnya, ia harus hidup dengan senang dan bahagia menikmati anugerah penciptaan dan semesta. Tidak terlalu banyak memikul derita dan nestapa baik dari sebab-sebab alam maupun dari sebab-sebab sesama makhluk. Hal ini dipandang sebagai kebahagiaan. Artinya, mencapai kesenangan maksimal dan penderitaan minimal.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar