Minggu, 24 Juni 2012

Friday, February 26, 2010

SBY & BUNG KARNO : Peringati MAULID NABI MUHAMMAD SAW

SBY & BUNG KARNO
Pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW


Maulid Nabi Muhammad SAW pada 12 Rabi’ul Awal 1431 H, bertepatan pada Jumat Kliwon 26 Februari 2010, diperingati oleh kaum muslim di berbagai penjuru negeri dengan berbagai cara dan tradisinya masing masing. Pula di negeri ini, dari Istana Negara hingga pelosok negeri. Tadi malam,
secara kenegaraan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW telah dilakukan di Istana Negara yang dihadiri Presiden SBY dan Wakil Presiden Boediono, menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu serta duta-duta besar negara Islam.

Dalam pidatonya pada peringatan kenegaraan itu, Presiden SBY mengingatkan kesantunan dan etika yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan demokrasi dan politik. SBY mengatakan, pelajaran yang ditinggalk
an Nabi besar itu dalam bidang demokrasi dan kehidupan politik adalah contoh yang arif bijaksana serta menjunjung tinggi harmoni.

"Demokrasi yang dibangun adalah demokrasi disertai amanah penuh etika, kesantunan, serta menjunjung tinggi akhlakul karimah. Bukan demokrasi yang dilandasi permusuhan dan saling menjatuhkan," jelasnya. Demokrasi yang dibangun di Indonesia, lanjut Presiden SBY, juga harus menjauhkan diri dari tirani kekuasaan golongan kuat serta pemaksaan kehendak yang dapat merusak keadilan. "Demokrasi harus santun, beretika, dan berakhlak sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah," tegas SBY.
Sementara Jumat pagi 26 Feberuari 2010, berte
mpat di Taman Silang Monas, SBY kembali menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang diisi dengan Dzikir Nasional dan dihadiri berbagai majelis dzikir di Jakarta.

Mencermati, sisipan pidato SBY pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini, rasanya sang kepala Negara ingin agar Warga Negara-nya utamanya kaum muslimin memahami bagaimana “posisi SBY” sebagai Kepala Negara, yang akhir akhir ini negeri-nya tengah banyak “diuji”.

Jadi teringat dengan dengan pidato kenegaran yang disampaikan oleh Bung Karno pada moment yang sama , Maulid Nabi Muhammad SAW pada tahun 1963. Bedanya, SBY “curhat” dan “kembali mengingatkan” agar senantiasa menjaga semangat berdemokrasi yang tetap harus santun, ber-etika dan berakhlak mulia. Sedang Bung Karno kala itu banyak menyampaikan gemblengan kepada rakyatnya, agar tetap semangat dan bangga sebagai Bangsa Indonesia yang memiliki perekat Pancasila yang kala itu diakui ke-kuat-annya oleh bangsa bangsa lain. Bung Karno juga tak segan segan mengingatkan kepada rakyatnya agar menauladani Nabi Besar Muhammad SAW.

BAGI SAYA
Memaknai Maulid Nabi Muhammad SAW tahun ini, saya lebih memilih kembali menyimak dan mendengarkan pidato-nya Bung Karno. Isinya tidak datar, dan menyemangati anak negeri yang rindu akan sosok pemimpin yang mampu menyemangati dikala gonjang ganjing perjalanan bangsa yang tertatih tatih ini. Bangsa ini butuh pemimpin yang mampu mendengar dan merasakan “curhat” nya rakyat daripada “curhat” nya pemimpin kepada rakyatnya.

Berikut telah saya unggah/upload lengkap pidato kenegaraan Bung Karno pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang sangat inspiratif itu. Anda bisa mengunduhnya. Terbagi dalam empat file berdurasi rata rata sekitar sepuluh menit-an.

Selamat memaknai peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Senantiasa-lah tauladan-i kebesaran sifat, sikap dan akhlaknya.
Link unduh lengkap pidato Bung Karno, Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara Jakarta 1963

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar